Aduh-aduuhh... gawat!!.

Ups, biasa aja sih sebenernya. Apalagi saya yg udah biasa melihat kejadian-kejadian gila dan mencengangkan di proyek, ada yg tersengat listrik, kena ledakan, kena larutan kimia, ada polisi, dlsb. Jadi kejadian kemarin sih buat saya 'biasa aja deh'. Tapi ya goblok aja (:sorry) kalo sampai menyebut diri sebagai orang-orang yang handal berpengalaman di bidang 'High Voltage Installation' tidak mengerti tentang prosedur-prosedur standar keselamatan kerja bagi manusia dan peralatan. Ngakunya sih lebih pengalaman dari saya dan mereka sudah pernah di training ke Jepang segala, padahal orang Jepang juga ga semuanya pinter kan... Gitu-gitu amat sih!

 

Kenapa sih sampai terjadi seperti itu dan kenapa saya dan pak tua saja (murofushi san) yg mengetahui kebodohan itu, kemana aja supervisor jagoan itu? Yg jelas supervisor lalai, anak buah ga ngerti instalasi tegangan tinggi. Akhirnya orang sampai naik ke dekat sisi busbar bertegangan 150kV dibiarkan saja, apalagi sampai melepas baut DS.

 

O iya.. sory, saya mungkin bikin anda bingung ya? Jadi seperti ini:

 

Saya adalah seorang engineer lulusan Poltek UI dan menyelami dunia tegangan tinggi selama lima tahun, baru pemula sih :) hehe. Detailnya disini.

 

Saya diajak oleh temen Jepang untuk ikut membantu dia di project Repowering PLTU Muara Karang. Lokasi rehabilitasi peralatan tegangan tinggi antara lain PLTU Muara K., PLTGU Muara K., Durikosambi, Petukangan, dan gardu lain yg terkait dengan jalur tersebut.

 

Setahun sudah ikut proyek ini, cuma sayangnya manajemen proyek ini medit bin kikir alias PELIT KEBANGETAN, bisa dibayangkanlah seperti apa sih kalo proyek seret duit. Pada ngedumel sana-sini.

 

Selama tiga bulan kemarin sibuk banget waktu pengerjaan replacement diameter#3, sepertinya tiada lagi hari libur bahkan banyak telepon dadakan tengah malam (biasanya kerja malam jam 11 malam - 03 pagi). Apa boleh buat, beginilah repotnya kalo jadi helper orang Jepang untuk test dan commissioning. Susah sih, misal saya tidak mencari dan resolve problem that occurs, Jakarta bisa-bisa padam, kasihan kan saya? pekerja kontrak tanpa lembur dll. Yah, anggap saja kerja sukarela demi bangsa dan negara, ucap saya dalam hati menenangkan diri.

 

Setelah sukses diameter #3, waktunya pengerjaan diameter#4. Tapi sayangnya dan untungnya.. Presdir PLN tidak mengijinkan adanya aktifitas pemadaman jalur transmisi mulai H-1 sampai H+7 PEMILU. Haha, untung karena saya bisa pulang kampung bertemu keluarga. Sayangnya diameter#4 mundur lagi (tapi cuma bos saya aja kok yg bilang begini).

 

Liburan lama, setelah itu tidak ada kerja bagi semua pihak bahkan sub kontraktor kita juga, banyak pula yg mengeluh diantara mereka (ga ada kerja means ga ada lemburan). Buat saya sih lebih enak nyantai begini, tapi was-was juga sih. Was-was karena yang saya tahu persis bahwa hanya sedikit orang yg memahami instalasi tegangan tinggi. Bahkan saya boleh saya bilang para pekerja untuk electrical-nya belum well-experience di bidang switchyard and substation rehabilitation, untuk pribadi saya mereka tidak akan saya kasih score excelent.

 

Berdasar pengalaman saya, biasanya orang yang baru diajari tentang instalasi, apalagi training kilat (kenapa saya ya yang harus ngajarin) seperti yang telah saya berikan kemarin, akan cepat lupa dan menyepelekan hal-hal penting di dalamnya setelah ada jeda liburan atau no activity.

 

Dan ternyata peringatan dari guru besar yang tidak sempat saya sampaikan, apalagi posisi saya sebagai staf lokal yang tidak memungkinkan untuk itu, akhirnya terjadilah kelalaian ini:

 

DSC00243

waktu pertama kali kejadian, baut DS dilepas tanpa sepengetahuan supervisor-nya, dan instruksinya adalah lepas baut-baut DS agar besok gampang pelepasan isolatornya. Sepertinya lupa ngasih tau/peringatan untuk jangan mendekati DS busbar.

DSC00241

Tidak ada yang mengerti apa sih bahayanya, pada waktu itu yang tahu cuma saya dan aki-aki saja. Spontan saya teriak, "wooiii!!! goblookk.. ngapain dilepas yang itu!! matilah."

DSC00242

Saya spontan lari ke gudang untuk ambil stick yang biasa dipakai untuk pasang grounding, ya apa boleh buat proyek kere. Tidak ada HV stick maka grounding stick pun jadi bahkan mungkin sirloin stick juga bisa keambil kalo kepepet.

DSC00240

Orang-orang Jepang malah nglarang saya pakai itu.. Lalu, PAKAI APA LAGI!!!. Pilihannya cuma satu meledak atau nekat dorong pake stick dan kembali mengencangkan bautnya.

 

Dan akhirnya system kembali diselamatkan... Saya puas, dan saya tidak mau terlibat untuk aksi kepahlawanan rame-ramenya. Cukup saya sendiri yg tahu. Biarkan para ksatria proyek itu yg melanjutkan. Sudah cukup...

 

150kV PLTU Muara Karang: 17 April 2009

Creative Commons License You may share this document under Creative Commons License – Terima kasih telah membaca tulisan ini. © 2011 Ari Sulistiono, Indonesian Electrical Engineer.