Siklus Kerja PLTGU - Gas Turbine Generator Cycles
Simple Cycle | Siklus sederhana A combustion gas turbine is a rotary engine that extracts energy from a flow of combustion gas. Sebuah turbin gas pembakaran adalah mesin rotari bahwa ekstrak energi dari aliran gas pembakaran. It has an upstream compressor coupled to a downstream turbine, and a combustion chamber in-between. Ini memiliki kompresor hulu digabungkan ke turbin hilir, dan sebuah ruang pembakaran di-antara. Energy is added in the combustor, where fuel is mixed with air and ignited. Energi ditambahkan di ruang bakar, di mana bahan bakar dicampur dengan udara dan dinyalakan. Combustion increases the temperature, velocity and volume of the gas flow. Pembakaran meningkatkan suhu, kecepatan dan volume dari aliran gas. This is directed through a nozzle over the turbine's blades, spinning the turbine and powering the compressor. Hal ini diarahkan melalui nosel atas bilah turbin, turbin berputar dan menyalakan kompresor. Energy is extracted in the form of shaft power which is used to drive an electric generator. Energi diekstraksi dalam bentuk kekuasaan poros yang digunakan untuk menggerakkan sebuah generator listrik.
Combined Cycle | Siklus Gabungan A combined cycle is a power producing engine or plant that employs more than one thermodynamic cycle. Siklus gabungan adalah kekuatan memproduksi mesin atau tanaman yang mempekerjakan lebih dari satu siklus termodinamika. Gas turbine engines are only able to use a portion of the energy their fuel generates. mesin turbin gas hanya dapat menggunakan sebagian dari energi bahan bakar menghasilkan. The remaining heat from combustion is generally wasted. Panas sisa dari pembakaran umumnya terbuang. Combining two or more "cycles", such as the Brayton cycle (gas turbine) and Rankine cycle (steam turbine, condenser, cooling tower), results in improved overall efficiency. Menggabungkan dua atau lebih "siklus", seperti siklus Brayton (turbin gas) dan siklus Rankine (uap turbin, kondenser, menara pendingin), menghasilkan peningkatan efisiensi secara keseluruhan. In a combined cycle power plant, a gas turbine generator generates electricity and the exhaust, waste heat is used to make steam to generate additional electricity using a steam turbine; this last step enhances the efficiency of electricity generation. Dalam pembangkit listrik combined cycle, generator turbin gas menghasilkan listrik dan gas buang, limbah panas digunakan untuk membuat uap untuk menghasilkan listrik tambahan menggunakan turbin uap; ini langkah terakhir meningkatkan efisiensi pembangkit listrik.
Simplified Combined Cycle (SCC) | Sederhana Combined Cycle (SCC)
SCC technology similarly captures combustion gas turbine waste heat and turns it into steam, creating additional power without the need for a steam turbine, condenser or cooling tower. teknologi SCC juga menangkap turbin gas panas pembakaran sampah dan mengubahnya menjadi uap, menciptakan tenaga tambahan tanpa perlu turbin uap, kondensor atau menara pendingin. Like the combined cycle, capturing this waste heat results in increased production of kWh without additional fuel being burned. Seperti siklus gabungan, hasil ini menangkap limbah panas dalam peningkatan produksi kWh tanpa bahan bakar tambahan yang dibakar. Because injected steam cools the combustor's hot gases, it is possible to burn additional fuel and stay in compliance with the thermal limits of the engine. Karena uap disuntikkan mendinginkan gas panas ruang bakar, itu adalah mungkin untuk membakar bahan bakar tambahan dan tinggal sesuai dengan batas termal mesin. The result is increased capacity and improved efficiency. Hasilnya adalah peningkatan kapasitas dan peningkatan efisiensi.
SCC achieves emissions improvements by pre-mixing steam and fuel before injection into the combustor. SCC mencapai perbaikan emisi oleh uap pra-pencampuran dan bahan bakar sebelum injeksi ke ruang bakar tersebut. The result is a smaller, cooler flame which reduces NO x . Hasilnya adalah dingin, api kecil yang mengurangi NO x. NO x of less than 5 ppmvd has been achieved in the field, while in atmospheric rig tests NO x levels of less than 2 ppmvd have been achieved. NO x kurang dari 5 ppmvd telah dicapai di lapangan, sedangkan dalam tes rig atmosfer NO x tingkat kurang dari 2 ppmvd telah dicapai.
The low NO x levels are achieved because CO stays below 10 ppmvd, while steam injection is increased to levels not achievable without a very homogeneous mixture of steam and fuel. NO x rendah tingkat yang dicapai karena CO tetap di bawah 10 ppmvd, sedangkan injeksi uap meningkat ke tingkat yang tidak dapat dicapai tanpa campuran homogen sangat uap dan bahan bakar. The ability to produce the NO x and CO allows greater turndown while maintaining compliance. Kemampuan untuk menghasilkan NO x dan CO memungkinkan turndown lebih besar dengan tetap menjaga kepatuhan.
Usually, SCC reduces the turbine inlet temperature and extends the hot gas path time between overhaul by at least fifty percent. Biasanya, SCC mengurangi temperatur masuk turbin dan memperpanjang lorong waktu gas panas antara perbaikan oleh setidaknya lima puluh persen.
Faster start requiring less fuel is possible because steam can be injected in the gas turbine as quickly as it is produced, avoiding steam turbine warm-up requirements. Cepat mulai membutuhkan sedikit bahan bakar ini dimungkinkan karena uap dapat disuntikkan dalam turbin gas secepat diproduksi, menghindari turbin uap pemanasan persyaratan. *belum sempet dirapihkan, maap gan*
Semoga Bermanfaat dan mudah-mudahan dapat menambah wawasan.
sore pak aris
BalasHapusnama : jemi saya mau tanya alat ukur apa saja yang dipakai untuk inspeksi kelistrikan mis : PLTD,PLTU,
apa ada caara pemakaiannya langsung dan aplikasinya mis : relay proteksi alat yang dipakai apa? Grounding , ....
Mohon bantuannya pak Aris untuk pengembangan pengetahuan pak
Terdengar bunyi air berkecipak-kecipak seperti orang sedang cebok.
BalasHapusMungkin Mama sedang membersihkan memeknya yang berlepotan air maniku.
Setelah Mama keluar, giliran aku yang masuk ke kamar mandi, karena
kepengen pipis sekalian mau mencuci penisku. Kata teman yang di fakultas
kedokteran, sebaiknya cowok kencing setelah bersenggama, lalu penisnya
dicuci sampai bersih.
Waktu kembali ke kamar Mama, kulihat Mama sedang mengganti kain
seprai, karena yang tadi kusut sekali. Sarung-sarung bantal pun diganti
dengan yang baru. Kemudian Mama menyemprotkan parfum di sana-sini,
sehingga kamar ini jadi harum.
Tampaknya Mama sangat menjaga kebersihan dan kerapian. Tiap sudut rumahnya ditata dengan rapi dan bersih.
Takut mengganggu Mama yang sedang merapikan kamar, aku pergi ke ruang
keluarga. Lalu kuhidupkan TV. Tidak ada acara yang menarik. Tapi
kutonton juga acara komedi dari salah satu pemancar TV favoritku, sambil
duduk melepaskan lelah di sofa panjang. Tak lama kemudian Mama muncul,
dalam gaun tidur putih dan tipis transparant. Tubuh seksinya tampak
membayang di balik gaun tidur itu.
udah ada tanda-tanda bahwa aku akan mencapai titik ejakulasi.
BalasHapus“Saya mau keluar Mam….” bisikku terengah.
“Mama juga mau orga, sayang….oooh….kita barengin lagi keluarnya yuk…..”
“I…iya Mam…..”
Lalu terjadi lagi pencapaian puncak kenikmatan kami secara bersamaan.
Terasa lagi Mama mencengkram bahuku, malah terasa mencakar-cakar,
justru pada saat aku sedang mendesakkan batang kemaluanku
sekuat-kuatnya.
Bhlaaaaaarrrrrrr……!
Meletuslah lahar kenikmatanku, menyembur-nyembur di dalam liang memek
Mama yang terasa menyambut dengan kedutan-kedutan misterius.
O, nikmatnya persetubuhan ini….sulit kulukiskan dengan kata-kata.
“Kayaknya saya akan ketagihan nih,” kataku setelah rebah di sisi Mama dalam keadaan sama-sama telanjang bulat.
“Gampang, kan tadi udah dibilang, tinggal kirim SMS aja. Tapi harus pake
kode-kode yang cuma dimengerti oleh kita berdua. Jangan
terang-terangan. Takut ketahuan Papie kan bahaya,” kata Mama sambil
bangkit dari tempat tidur lalu melangkah ke kamar mandi.
Mendengar kata “Papie”, batinku serasa terhempas. Oh, Papie…maafkan
BalasHapusanakmu ini…ampuni aku Papie….aku sedang mencuri milik Papie yang sangat
berharga ini….!
Ada rasa bersalah di hatiku. Tapi aku tak menghentikan enjotanku.
Malah makin gencar kugeser-geserkan batang kemaluanku yang sedang
dicengkram oleh liang surgawi ibu tiriku.
Mama pun merintih-rintih histeris lagi. Bahkan terdengar suaranya
setengah meraung. Sehingga terpaksa kusumpal mulutnya dengan ciuman dan
lumatan, supaya suaranya tidak terdengar ke luar.
Kedua tanganku juga tak mau diam. Di tengah persetubuhan yang sangat
bergairah itu aku masih sempat menjelajahkan tanganku untuk
meremas-remas paha Mama yang sering terangkat ke atas. Sampai akhirnya
kurasakan goyangan pantat Mama mulai menggila, meliuk-liuk edan….lebih
erotis daripada penari perut dari Timur Tengah. Ini membuatku seperti
ditarik ke puncak kenikmatan yang luar biasa. Ya, sudah
Terkadang tanganku menjelajah, berusaha menjamah sejauh mungkin.
BalasHapusSambil membungkuk aku berhasil menjangkau payudara Mama, lalu
meremas-remasnya dengan gerakan penis makin gencar….maju mundur…maju
mundur….sehingga terdengar lagi bunyi kecipak-kecipak yang lucu
itu….crrreeeekkkk….crroookkkk….creeekhhh… crokkkk…diiringi
erangan-erangan histeris ibu tiriku….Heeen….oooh…Heeenn….iya Heen…ini
enak sekali sayang….oooohhh…ooohhh….Heeennnnn….oooohhh ….Heeen…
Aku pun mulai berdengus-dengus. Terkadang lututku gemetaran karena sulit menahan nikmatnya ngentot istri muda ayahku ini.
Tapi hanya belasan menit Mama bisa bertahan dalam posisi seperti ini.
Lalu ia mengejang lagi di puncak orgasmenya. Ia ambruk telungkup,
sehingga penisku terlepas dari genggaman liang surgawinya. Lalu ia
telentang sambil merentangkan kedua kakinya. Aku mengerti bahwa ia
mempersilakanku melanjutkan dengan posisi biasa. Maka sambil merangkak
ke atas tubuhnya, kupegang penisku dan kutempelkan lagi ke mulut
vaginanya.
Kemudian kudesakkan lagi penisku….blessss….agak mudah penisku
membenam ke dalam liang memek Mama, karena masih basah dengan lendirnya
sendiri. Aku mulai lagi mengayun batang kemaluanku, dorong tarik, dorong
tarik….
Mama mendekapku lagi dengan hangat. Bahkan sempat berbisik, “Ukuran punyamu terlalu besar, sayang. Mama nggak tahan lama-lama….”
“Jangan terlalu dipaksakan,” sahutku, “kalau Mama pengen istirahat dulu, istirahat aja.”
“Hush…bukan pengen istirahat, sayang. Maksud mama, nggak kuat lama-lama
nahan orgasme. Nih…sebentar juga pasti orga lagi….aaaah…..gak nyangka
punyamu malah lebih jangkung gede daripada punya ayahmu….”
“Saya juga nggak nyangka kalau mimpi itu akan menjadi kenyataan….aaaah….”
“Mimpinya gimana Hen?” tanya Mama sambil mengelus-elus rambutku.
“Dalam mimpi itu, Mama lagi mandi, saya masuk ke kamar mandi yang tidak terkunci…”
“Terus?”
“Saya….saya perkosa Mama….Mama jerit-jerit, tapi saya nggak peduli…tahu-tahu celana saya basah…”
“Ternyata mama nggak perlu diperkosa kan?” bisik Mama sambil menggelitik
pinggangku, “kalau kamu lagi kepengen, minta aja terang-terangan…asal
jangan ketahuan Papie aja…”
Mendengar kata “Papie”, batinku serasa terhempas
“Boleh,” sahutku patuh.
BalasHapusKemudian Mama merangkak, lututnya menahan tubuhnya, sepasang siku
tangannya juga menekan kasur, sementara pantatnya ditunggingkan ke atas,
sehingga liang anusnya tampak lebih jelas di mataku. Tapi sasaranku
adalah lubang di bawah anus itu. Lubang yang dirimbuni rambut lebat dan
keriting itu.
Sambil berlutut di kasur, tepat di belakang pantat Mama, aku
mencolek-colek sebentar, mencari lubang surgawi yang akan kucoblos itu.
Ketemu dengan mudah. Lalu puncak zakarku kuletakkan di mulut memek Mama.
Dengan tangan kirinya Mama membantu memegang penisku, sehingga aku
tinggal mendorong saja sambil berpegangan ke pinggang Mama.
Blesss…. batang penisku mulai membenam…kutarik dulu sedikit, lalu
kubenamkan lagi. Ya, aku mulai lagi mengentot Mama sambil berlutut di
belakang pantatnya. Tanganku berpegangan ke pinggang Mama. Tapi tangan
kiriku ditarik oleh tangan kiri Mama, lalu jari tengahku dipegang oleh
Mama dan dieluskan ke kelentitnya. Aku mengerti maksud Mama. Bahwa
sambil memompakan penisku, jari tangan kiriku harus mengelus-elus
clitoris Mama. Dengan suka hati kulakukan keinginan ibu tiriku yang
jelita itu.
“E…enak Hen?” tanya Mama dengan suara tersendat.
“Enak Mam. Fantastis…hhhh….” sahutku terengah juga karena sedang berlutut sambil mengentot Mama dan mengelus-elus kelentitnya.
Mama mencium bibirku, lalu berbisik, “Terima kasih sayang…enak sekali.”
BalasHapus“Saya yang harus bilang terima kasih. Barusan fantastis sekali…”
kataku sambil membiarkan Mama tetap berada di atas tubuhku, membiarkan
liang memeknya tetap “mengepal” batang kemaluanku.
“Kamu pernah beginian sama cewek lain?” tanya Mama tiba-tiba.
“Belum pernah,” sahutku berdusta. Padahal aku sudah sering melakukannya dengan Mbak Suzan dahulu.
“Tapi kamu kuat bertahan,” kata Mama dengan tatapan penuh selidik, “biasanya kalau pertama kalinya sebentar juga udah meletus.”
Aku bingung menjawabnya. Tapi tiba-tiba saja aku mendapat akal. Lalu
kataku, “Kalau onani saya sering melakukannya, Mam. Sejak masih di SMA
saya suka onani, kan nggak apa-apa?!”
“O pantesan…yayaya…daripada main sama pelacur, mendingan juga dikocok
sendiri, biar jangan ketularan penyakit kotor. Apalagi zaman sekarang
ada ***-AIDS…gak ada obatnya…kalau sudah ketularan, tinggal nunggu
kematian aja.” Mama bergerak menarik liang memeknya sampai kontolku
terlepas dari cengkeraman liang surgawi itu.
“Belanjanya jadi Mam?” tanyaku sambil memperhatikan memek Mama yang baru
saja membuatku nikmat setengah mati. Tampak air maniku meleleh ke arah
anusnya.
“Nggak ah. Lemes…gila…memek mama seperti jebol saking gede dan
panjangnya punya kamu Hen…” kata Mama sambil mengambil handuk kecil dari
lemarinya, lalu mengelap memeknya. Setelah itu Mama menghampiriku.
Dengan senyum manis Mama mengelap batang kemaluanku yang berlepotan air maniku bercampur lendir memek Mama.
Tapi perlakuan Mama yang dengan telaten mengelap batang kemaluanku,
justru membangkitkan lagi nafsu birahiku. Ketika Mama merebahkan diri di
sisiku, dalam keadaan masih telanjang, aku bangkit, duduk bersila
sambil mengelus perut dan buah dada Mama yang montok merangsang itu. Dan
ketika kuelus memeknya yang berbulu lebat itu, Mama diam saja. Mama
tidak tahu bahwa penisku sudah ereksi lagi.
Lalu dengan hati-hati aku merangkak ke atas tubuh Mama, sambil
memegang kontolku yang sudah ngaceng lagi dan kuarahkan ke memek Mama.
Mama tercengang setelah menyadari hal ini, “Kamu sudah mau lagi?”
“Iya Mam…kesempatan yang langka ini tidak akan saya sia-siakan,”
sahutku sambil menempelkan puncak kontolku pada arah yang tepat, “Nggak
apa-apa kan Mam?”
“Lakukan apa pun yang bisa bikin kamu puas. Kan mama sayang kamu,” kata
Mama sambil memegang leher penisku dan membantu mengarahkannya pada
sasaran yang tepat.
Aku bermaksud mendesakkan penisku yang terasa sudah tepat letaknya. Tapi tiba-tiba Mama bertanya, “Mau coba posisi doggy?”
Selanjutnya Mama yang bergerak aktif, menaikturunkan pantatnya,
BalasHapussehingga jepitan liang memeknya terasa membesot-besot batang kemaluanku.
Dalam posisi seperti ini tanganku jadi bebas meremas-remas buah pinggul
Mama.
Terdengar lagi Mama merengek-rengek histeris dan erotis. Dan ayunan
pantatnya semakin gencar, sehingga pergesekan liang memeknya dengan
kontolku menimbulkan bunyi khas, kcprak…kcprrek…kcprruk…kcprakkk….wow,
nikmatnya!
Cukup lama kami melakukan semuanya ini, sampai keringatku membanjiri
tubuhku dan tubuh Mama…dan akhirnya kudengar Mama berdesah,
“Hssssh….aaaah….mama mau keluar lagi Hen…”
“Sa…saya juga mau keluar,” sahutku yang memang tak kuat lagi mempertahankan kenikmatan ini.
“Ayo kita barengin keluarnya, biar nikmat…” ajak Mama sambil mempergila
ayunan pantatnya, sehingga kontolku terasa dipilin-pilin oleh liang
memek Mama.
“Dududuhh…Mama….ini enak sekali Mam….duduuuuhhh….aaaaah…..” cetusku
terlontar begitu saja ketika hampir tiba di puncak kenikmatanku.
“He…eh…Hen…mama juga belum pernah ngerasa seenak ini….ooooh…Heeen….mama
udah sampai….” Mama berkelojotan di atas tubuhku sambil meremas-remas
rambutku. Pada saat yang sama aku pun berdengus sambil mencengkram
punggung Mama kuat-kuat. Lalu kurasakan penisku memancarkan air mani
berkali-kali …creeet….croooot…. creeet…. creeet….entah berapa kali
penisku mengejut-ngejut di dalam liang memek Mama.
Tanpa menunggu komando lagi kudorong penisku kuat-kuat, sehingga Mama
BalasHapusmenyeringai dan merintih, “Sedikit-sedikit dulu sayang….jangan
disekaliguskan….”
Aku mengerti apa yang Mama maksudkan, karena di kampus aku sering
bertukar pikiran dengan teman-teman yang sudah berpengalaman dalam soal
sex. Maka sambil menekan penisku, aku pun berusaha memompakannya sedikit
demi sedikit. Gerakan yang tidak terlalu dipaksakan ini penting, kata
temanku, supaya perempuannya tidak kesakitan.
Dan…makin lama penisku makin jauh bergerak-gerak di dalam vagina ibu tiriku.
“Duuuh….sudah masuk semua sayang….duuuh…punyamu kok panjang gede gini…ooooh…..enak sekali,
Hen….hsssshhhhh…..ooooh……iya Hen….terus Hen….terus
sayang….adududuuuuhhhhhh…..punya kamu kok enak sekali sayang….” Mama tak
henti-hentinya menyeracau ketika aku mulai gencar mengenjot liang
memeknya yang…ah… enaknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Aku pernah bersenggama dengan Mbak Suzan yang dahulu kost di rumahku.
Tapi rasanya tidak senikmat dengan Mama ini. Mungkin karena jepitan
liang vagina Mama terasa sekali waktu bergesekan dengan penisku. Bahkan
nikmatnya semakin menggila ketika pantat Mama mulai bergoyang-goyang
erotis…benar-benar membuatku edan eling dalam dekapan hangatnya.
Tapi berbeda dengan Mama yang erangan histerisnya tiada henti-henti,
aku cuma berdengus-dengus seperti kerbau sedang disembelih. Terkadang
suara kami hilang, karena kami sedang berciuman, tepatnya sedang saling
lumat. Ludah kami sudah bertukar-tukar, tanpa merasa jijik sedikit pun.
Sementara tanganku asyik meremas sepasang payudara Mama, terkadang
kuselomoti, kujilati dan kuhisap-hisap juga.
Dalam keadan senikmat ini aku benar-benar lupa daratan. Tak peduli
lagi bertukar air ludah dengan Mama, bahkan terkadang lidahku menjilati
leher Mama yang mulai keringatan dan menjilati ketiak Mama tanpa merasa
ragu sedikit pun. Semua itu justru membuat Mama makin merem-melek,
rintihan histerisnya pun makin menjadi-jadi.
Bahkan suatu saat kudengar suara Mama terengah-engah,
“Heeen….oooo…oooh…mama sudah mau keluar, sayang……cepatkan
enjotannya….oooh….penismu luar biasa enaknya sayang…..aaaah….mama pasti
ketagihan nanti…….ooooh….mama keluar
Heeeeeennnnn…hssssshhhhhhhhhhhhhh……..”
“Tubuh Mama mulus sekali,” gumamku sambil mengelus perut Mama.
BalasHapusMama cuma tersenyum manis.
Aku tak mau berbasa-basi dan buang-buang waktu lagi. Kuciumi leher
Mama yang hangat…ciumanku lalu menjadi jilatan penuh gairah…jilatan pun
tak diam di leher Mama. Jilatanku mulai membasahi buah dada Mama….pusar
perutnya juga…lalu menurun lagi ke arah selangkangannya…wow, bulu
kemaluan Mama lebat sekali! Aku suka! Dan lidahku mulai menyibakkan
jembut Mama, sehingga kemaluannya mulai tampak jelas…jelas sekali. Lalu
dengan ganas kuciumi kemaluan Mama dengan penuh nafsu. Tiada bau sedikit
pun. Mungkin Mama selalu menjaga vaginanya agar tetap hygienis. Apalagi
tadi dia kan baru mandi.
Mama merentangkan kedua pahanya, sehingga aku makin rakus menjilati vaginanya.
Mama menggeliat-geliat sambil mengelus rambutku diiringi elahan
nafasnya yang memburu dan rintihan-rintihan histerisnya yang semakin
merangsang nafsu birahiku.
“Mulai aja Hen…mama udah gak tahan nih…” pinta Mama pada satu saat.
“Iya Mam,” kataku bernada anak yang patuh. Sambil bertekuk lutut di
antara kedua kaki Mama, kulepaskan kaus dan celana jeansku. Mama
memperhatikanku dengan senyum yang…ah…manis sekali senyum itu. Lalu
kulepaskan CDku. Mama melotot, seperti tak mau berkedip waktu
pandangannya terarah ke batang kemaluanku yang sudah sangat ngaceng ini.
“Hen…pe…penismu kok besar sekali? Jauh lebih besar daripada punya
Papie….!” Mama bangkit dan memegang batang kemaluanku, terasa gemetaran
tangan Mama saat itu.
Aku cuma menanggapinya dengan senyum, sambil menanggalkan kimononya yang sudah hampir terlepas dari tubuh sempulur itu.
“Gak salah ni Hen?” Mama mengelus-eluskan penisku ke pipinya, “Punya
anaknya malah jauh lebih gede dan panjang daripada punya ayahnya?!”
“Kenapa Mam? Takut?” bisikku sambil mendorong dadanya dengan lembut, lalu menghimpitnya setelah ia terlentang merangsang.
Mama memelukku dengan sikap gemas, “Iya takut. Takut ketagihan, sayang,” bisiknya sambil mencubit hidungku.
“Mama tau gak? Beberapa hari yang lalu saya sampai mimpi beginian
sama Mama…sampai basah Mam…” kataku sambil mengelus buah dada Mama yang
benar-benar terawat, benar-benar masih kencang.
“Masa?!” Mama menatapku dengan mata bergoyang indah, “Tapi mama emang
sudah nyangka, kamu punya perhatian khusus sama mama. Dan mama juga
sebenarnya…yah… terus terang saja mama juga sering melamunkan kesempatan
seperti ini.” Mama memegang leher penisku, mengatur posisinya
sedemikian rupa sehingga terasa puncak penisku sudah bertempelan dengan
mulut vagina Mama yang sudah kubikin basah tadi.
Apakah dia juga membutuhkanku seperti aku yang terus-terusan
BalasHapusmelamunkannya? Entahlah. Yang jelas Mama ciuman dan lumatan Mama terasa
begini hangatnya, membuatku jadi tak mau cepat-cepat melepaskan
pertemuan lidah dan dua pasang bibir . Bahkan kemudian kutemukan
kenyataan baru. Bahwa dekapanku di pinggang Mama membuat kimono itu
tertarik sedikit demi sedikit. Dan waktu tanganku turun, kusentuh buah
pinggul yang besar dan kencang.
Telapak tanganku bersentuhan langsung dengan kulit buah pinggul Mama.
Masih waktu saling lumat, tanganku diam-diam menjelajah. Lalu kutemukan
suatu kenyataan edan, yang membuat jantung berdegup kencang, yang
membuat darahku berdesir-desir….ooh….istri muda Papie ini tidak
mengenakan celana dalam! Ya, tanganku tidak menemukan celana dalam.
Apakah ini suatu kebetulan, ataukah memang sudah dipersiapkan?
Jangan berpikir terlalu jauh dulu. Bukankah Mama baru habis mandi?
Wajar saja kalau ia belum mengenakan celana dalam di balik kimononya.
Tapi…mengelus dan meremas buah pinggul Mama tanpa batasan sehelai benang
pun ini, membuat jantungku berdegup kencang. Nafasku pun jadi tak
beraturan lagi. Terlebih ketika Mama berguling sambil mendekapku,
sehingga tubuhku jadi di atas tubuhnya. Dan…belahan kimono di bagian
dadanya terbuka, sehingga toket montoknya terbuka. Ternyata payudara
montok dengan puting kemerahan menantang itu tidak mengenakan beha!
Tidak ada apa-apa lagi di balik kimono itu selain tubuh Mama yang harum
dan padat dan hangat itu!
Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Lumatanku pindah, dari
bibir Mama ke lehernya. Kujilati lehernya dengan penuh nafsu, sehingga
ia menggeliat-geliat. Lalu mulutku turun ke bagian dada yang terbuka
itu. Kukecup puting buah dada yang menantang itu, selanjutnya bukan cuma
kukecup melainkan juga kukulum dan kusedot-sedot, sementara ujung
lidahku bergerak-gerak menjilati pentil tetek yang ranum itu.
Lalu terdengar suara Mama di antara deru nafasnya yang memburu, “Hen…mama jadi pengen…”
“Saya juga pengen,” sahutku yang tengah asyik menjilati puting payudara Mama, “boleh Mam?”
Lalu kudengar suara Mama di puncak kepasrahannya, “Iya
Hen…lakukanlah…malam ini sekujur tubuh mama jadi milikmu, Hen…” Mama
mengakhiri ucapannya dengan pelepasan ikatan tali kimononya. Maka
tampaklah sebentuk tubuh yang mulus dan sempurna di mataku. Meski
kimononya belum dilepas total, bagian depan tubuh Mama sudah sepenuhnya
terbuka.
Apakah dia juga membutuhkanku seperti aku yang terus-terusan
BalasHapusmelamunkannya? Entahlah. Yang jelas Mama ciuman dan lumatan Mama terasa
begini hangatnya, membuatku jadi tak mau cepat-cepat melepaskan
pertemuan lidah dan dua pasang bibir . Bahkan kemudian kutemukan
kenyataan baru. Bahwa dekapanku di pinggang Mama membuat kimono itu
tertarik sedikit demi sedikit. Dan waktu tanganku turun, kusentuh buah
pinggul yang besar dan kencang.
“Ya Mam…” aku menghampiri pintu kamar Mama yang tidak tertutup rapat,
BalasHapuslalu kuberanikan diri membukanya dan berdiri di ambang pintu itu.
Kulihat ia duduk di kursi depan meja rias, tangan kirinya memegang gaun
terusan, tangan kanannya memegang celana jeans dan t-shirt biru muda.
“Masuk aja Hen,” katanya datar seperti tiada sesuatu yang tak wajar
(seperti seorang ibu menyuruh anaknya masuk ke kamarnya), padahal aku
mulai tergiur melihat pahanya yang begitu mulus tersembul dari belahan
kimononya,
“Mending pake celana jeans ini apa mending pake gaun ini Hen?”
Mendengar undangannya, aku masuk ke dalam. “Dua-duanya bagus. Tapi
Mama kan mau dibonceng di motor saya. Mungkin kalau pake gaun malah
ribet. Duduknya harus miring,” kataku sambil duduk di pinggiran tempat
tidurnya.
“Iya ya,” ia mengangguk-angguk sambil tersenyum manis, “minta mobil dong sama Papie, biar kalau ikut kamu bisa pake gaun.”
“Mama aja yang minta, biar saya yang nyetir nanti. Kalau saya dikasih mobil, huuhh…Mbak Helen sama Vinnie pasti ngiri.”
“Nggak enak Hen. Nanti disangkanya mama cewek matre. Mmm…kamu nggak ada acara apa-apa sore ini?”
“Nggak ada. Pulang malem juga nggak apa-apa. Mau ngajak nonton bioskop Mam?”
“Nggak ah. Mau nonton sih puter DVD aja di sini, ngapain jauh-jauh ke bioskop? Eh…Papie mau seminggu di luar kotanya ya?”
“Katanya sih begitu,” kataku yang lalu teringat bahwa Papie baru berangkat tadi pagi, mau ngurus bisnisnya di Jateng.
“Mmm…mama pake ini aja Hen?” tanyanya sambil mengangkat celana jeans dan t-shirt biru mudanya.
“Iya Mam. Kalau nggak takut diketawain sih mending pake kimono itu aja.
Dengan kimono itu Mama kelihatan seksi banget. Eh…maaf Mam…”
Aku merasa kelepasan bicara, mengucapkan kata “seksi” segala. Tapi
dia tidak marah. Dia malah meletakkan gaun dan celana jeans dan t-shirt
biru mudanya di meja rias. Lalu menghampiriku sambil merentangkan kedua
lengannya….dengan senyum mengundang di bibirnya. Aku jadi bingung, mau
apa dia dengan sikap seperti itu?
“Bener mama ini cantik Hen?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
“Sumpah!” aku mengangkat dua jari kananku, “Mama bener-bener cantik. Papie hebat bisa dapetin Mama.”
“Kamu bisa aja muji-muji. Coba cium Mama, mau nggak?”
Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan ibu tiriku ini. Namun jelas,
bibir tipis mungil itu sedang menghampiri bibirku. Lalu entah bagaimana
mulainya, tahu-tahu aku sudah terlentang dihimpit Mama yang telungkup di
atas tubuhku. Aku juga tidak tahu bagaimana mulainya, tahu-tahu bibirku
sudah saling lumat dengan bibir ibu tiriku yang cantik dan bahenol itu.