Converter Address Unstructured Menjadi Structured (IOA1,IOA2,IOA3) untuk IEC-101/4

Saat berkomunikasi dengan control centre berbasis protocol IEC60870-5-101 atau 104, kita harus memahami bahwa range address dari protocol ini sangat lebar yaitu dari 0 s/d 16 juta lebih kombunasi address signal yang bisa dibuat.

Dan dalam protocol ini pemberian address dari signal terdiri dari dua metode input. Model pertama, address signal menggunakan tiga byte address berurutan yang dikenal dengan Index Of Address atau IOA1, IOA2 dan IOA2, pengaddressan model ini diberi nama structured address.

Metode yang kedua adalah diisi dengan satu buah angka desimal yang merupakan address gabungan dari tiga byte tadi, address model ini dikenal sebagai unstructured address.

Kedua model address diatas pada dasarnya sama saja, dan umumnya control centre seperti Sprectrum Power dapat menggunakan kedua address tersebut, tinggal klik saja mau address yg mana. Yang suka belibet biasanya adalah engineer yang konfigurasi mapping address di RTU, terkadang RTU hanya bisa model structured saja alias harus format IOA1, IOA2, IOA3. Dan ada juga yang hanya bisa format unstructured saja alias hanya satu IOA.

Disini engineer RTU harus dapat melakukan konversi address, apabila master memberikan address dalam format unstructured maka engineer RTU atau engineer automation harus sudah siap untuk mengkonversinya sesuai dengan RTU yang hanya bisa structured format, atau sebaliknya.

Apabila anda masih kesulitan untuk konversi address tsb, anda dapat menggunakan converter address dibawah. Cukup mudah dan ringan, tinggal isi dan klik. Selesai!

Structured IOA to Unstructured IOA Converter

or

Unstructured IOA to Structured IOA Converter

Jika anda ingin menggunakan converter web ini secara offline, cukup save saja halaman ini ke My Document sebagai html dan anda dapat membukanya kapan saja tanpa koneksi internet.

Excel Converter - IOA Unstructured to Structured for SCADA IEC-101/104Atau anda dapat menggunakan Excel Converter yang saya sudah buat, free untuk anda. DOWNLOAD DISINI

Semoga bermanfaat! Apabila tulisan ini cukup membantu untuk anda, boleh jadi teman-teman disekitar anda juga membutuhkan tulisan ini. Silahkan bagikan di facebook/twitter/google+ dengan menggunakan tombol share diatas. Mari bahu-membahu berkontribusi untuk maju bersama… (ari)

Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >

Kultum Ramadhan Singkat Jelas untuk Tarawih 30 hari – Taushiyah Aa Gym

Download Materi Kultum 30 Hari - Isi Singkat Jelas: Taushiyah Aa Gym

Saat ramadhan tiba, adalah saat yang baik sekali bagi tiap-tiap masjid atau mushola di sekitar kita mengadakan kegiatan kultum warga secara bergantian sebelum memulai sholat tarawih. Disamping untuk melatih keberanian public speaking dan meningkatkan keimanan kita, kegiatan ini juga berpahala yang luar biasa hebatnya, sesuai firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Asr.

Apalagi dengan taushiyah yang disampaikan dapat menyentuh dan membuat seseorang menjadi sholih, maka inilah yang dinamakan ilmu yang bermanfaat yang pahalanya tidak terputus meski kita sudah tiada atau meninggal dunia. Tertarik dengan janji Allah wahai saudaraku? Ayo jangan ragu-ragu untuk mengamalkannya, hanya sekali setahun dan anda tidak akan rugi dengan kegiatan ini seumur hidup.

Kultum di bulan Ramadhan dapat dilakukan saat sebelum memulai sholat tarawih, dengan siraman ruhiyah, hati menjadi adem dan damai, sholat tarawih pun terasa nikmat dan dekat dengan Allah Yang Maha Penyayang. Sembari mendengarkan kultum, sembari mengendorkan perut yg habis kerja keras apalagi buat saudara yg suka makan banyak alias balas dendam pas buka yah, hehe.

Kultum juga sangat bagus disampaikan setelah sholat subuh berjamaah, sahur lanjut sholat subuh dan diakhiri dengan kultum, hati termotivasi untuk menjadi positif, InsyaAllah semua aktifitas bekerja nyaman, tidak penuh emosi dan menjadi bernilai ibadah. Semakin banyak menimba ilmu maka akan semakin kokoh imannya. Kalau iman sudah kokoh.. puasa seharian mah enteng-enteng aja, malah ketagihan.

 

File Kultum ini saya buat dalam versi MS Word agar mudah saudara edit dan print. Materinya disadur dari taushiyah Aa Gym (ringan tapi mengena di hati).

Berikut Judul-Judul Materi Kultum 2017 dalam File Zip yang Pertama (berisi 51 Materi Kultum dari Ceramah Aa Gym):

Download Materi Kultum 30 Hari - Isi Singkat Jelas: Taushiyah Aa Gym

  • Agar Amal Terasa Nikmat
  • Ahli Syukur
  • Alloh Maha Mengabulkan Doa
  • Alloh Maha Menghidupkan dan Mematikan
  • Alloh Maha Pemberi Petunjuk
  • Anak Sebagai Ujian
  • Antara Ikhlas dan Tidak Ikhlas
  • Arti Kesuksesan
  • Belajar Dalam Kesulitan
  • Berbaik Sangka kpd Allah
  • Bersedekah, Jalan ke Allah
  • Bertambah Karena Syukur
  • Ciri Orang Bertaubat
  • Ciri Orang yang Sholatnya Khusyu
  • Ciri Penyakit Cinta Dunia
  • Hanya Bersandar Pada Alloh
  • Hidup Berkualitas
  • Hijrah dari Kebodohan Kepada Ilmu Pengetahuan
  • Ilmu Cicak
  • Ilmu yang Berkah
  • Isi dan Topeng
  • Istiqomah Walau Sedikit
  • Jalan Yakin Kepada Allah
  • Jangan Sibuk Dengan Penilaian Makhluk
  • Kedahsyatan Sedekah
  • Keutamaan Mencari Ilmu
  • Kiat Bahagia
  • Kita Butuh Petunjuk Allah
  • Kultum untuk Ilmu
  • Kunci Kesabaran
  • Memperbaiki Shalat
  • Menghormati Sesama
  • Meraih Bahagia Dunia-Akhirat
  • Orang Rendah Hati Disayang Alloh
  • Orientasi Amal Sholeh
  • Penilaian Alloh yang Utama
  • Penyebab Hidup Terasa Berat
  • Perbanyak Kebaikan agar Kita Diampuni
  • Pribadi Ikhlas
  • Rasa Bersaudara
  • Rezeki Alloh Tidak Meleset
  • Sembuh Bukan Karena Obat
  • Syarat Memiliki Akhlak Baik
  • Tafakur
  • Tarawih yang Ideal
  • Tegar Menghadapi Kemalangan
  • Tiada Terlambat Untuk Belajar
  • Tidak Ada Kebetulan
  • Tiga Tahap Tawakal
  • Tiga Tempat Tersingkapnya Kepribadian Seseorang
  • Waspada Selama Puasa Ramadhan!!

Kultum untuk Ba’da Subuh 2017 [Updated Terbaru] – Dalam satu file Zip

Download DISINI! - Materi Kultum Ba’da Subuh Singkat Padat Jelas dan Mengena di Hati – Materi Ceramah Aa Gym

Isi Bundel Zip Paket Materi Kultum Subuh 2017:

  • UthmanTN1 Ver10.otf (install FONT Utsmani ini agar ayat-ayat Al-Qur’an yang ada di dalam materi kultum dapat terbaca dengan jelas)
  • Salsa-Regular.ttf dan Trajan Pro Regular.ttf (Install Font ini agar tulisan materi tampak lebih rapih dan manis seperti gambar dibawah ini)

Tampilan Materi dengan FONT Salsa dan FONT Arabic Uthman

Dokumen Lainnya Seputar Kepanitiaan Romadhon 2017

Design grafis undangan, poster, pamflet dan piagam dibuat dalam word agar mudah dibuka & diedit (*untuk desain yg kaya warna menggunakan photosop):

Poster Kegiatan Lomba Ramadhan Anak       poster-bukber-2017

Banner Ramadhan 2017

Share postingan ini agar banyak mushola/masjid yang berhasil menjalankan program kultum selama romadhon, InsyaAllah pahala yang luar biasa bagi saudara-saudaraku yang membagikan postingan ini, semakin banyak dishare akan semakin banyak saudara-saudara kita yang mendapatkan ilmu yang bermanfaat. –shodaqoh jariyah-

Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >

Bagaimana Konversi Ukuran Kabel AWG ke Ukuran Kabel mm2

Hasil gambar untuk AWG cable mm2

AWG to mm conversion

American wire gauge (AWG) to mm and mm2 converison calculator, chart and how to convert.

AWG to mm conversion calculator

Select gauge #:  
Enter gauge #: AWG
 
Diameter in millimeters: mm
Cross sectional area in square millimeters: mm2

How to convert AWG to mm

Wire diameter calculation

The n gauge wire diameter dn in millimeters (mm) is equal to 0.127mm times 92 raised to the power of 36 minus gauge number n, divided by 39:

dn (mm) = 0.127 mm × 92(36-n)/39

 

0.127mm is the diameter of gauge #36.

Wire cross sectional area calculation

The n gauge wire's cross sercional area An in square millimeters (mm2) is equal to pi divided by 4 times the square wire diameter d in millimeters (mm):

An (mm2) = (π/4)×dn2 = 0.012668 mm2 × 92(36-n)/19.5

AWG to mm conversion chart

AWG # Diameter
(mm)
Diameter
(inch)
Area
(mm2)
0000 (4/0) 11.6840 0.4600 107.2193
000 (3/0) 10.4049 0.4096 85.0288
00 (2/0) 9.2658 0.3648 67.4309
0 (1/0) 8.2515 0.3249 53.4751
1 7.3481 0.2893 42.4077
2 6.5437 0.2576 33.6308
3 5.8273 0.2294 26.6705
4 5.1894 0.2043 21.1506
5 4.6213 0.1819 16.7732
6 4.1154 0.1620 13.3018
7 3.6649 0.1443 10.5488
8 3.2636 0.1285 8.3656
9 2.9064 0.1144 6.6342
10 2.5882 0.1019 5.2612
11 2.3048 0.0907 4.1723
12 2.0525 0.0808 3.3088
13 1.8278 0.0720 2.6240
14 1.6277 0.0641 2.0809
15 1.4495 0.0571 1.6502
16 1.2908 0.0508 1.3087
17 1.1495 0.0453 1.0378
18 1.0237 0.0403 0.8230
19 0.9116 0.0359 0.6527
20 0.8118 0.0320 0.5176
21 0.7229 0.0285 0.4105
22 0.6438 0.0253 0.3255
23 0.5733 0.0226 0.2582
24 0.5106 0.0201 0.2047
25 0.4547 0.0179 0.1624
26 0.4049 0.0159 0.1288
27 0.3606 0.0142 0.1021
28 0.3211 0.0126 0.0810
29 0.2859 0.0113 0.0642
30 0.2546 0.0100 0.0509
31 0.2268 0.0089 0.0404
32 0.2019 0.0080 0.0320
33 0.1798 0.0071 0.0254
34 0.1601 0.0063 0.0201
35 0.1426 0.0056 0.0160
36 0.1270 0.0050 0.0127
37 0.1131 0.0045 0.0100
38 0.1007 0.0040 0.0080
39 0.0897 0.0035 0.0063
40 0.0799 0.0031 0.0050

 


Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >

SIPROTEC - Tips Supaya Signal Proteksi Bisa Latch untuk SCADA

Bagaimana Caranya Agar Signal Proteksi Tertangkap oleh SCADA

Latar Belakang

Signal proteksi seperti Trip signal adalah signal yang hanya akan muncul pada saat terjadi gangguan dan akan hilang dengan sendirinya saat gangguan hilang (saat CB sudah trip maka seketika itu juga gangguan hilang/clearance). Apabila anda menggunakan sebuah control centre tanpa kemampuan me-latching signal tersebut dari event log, maka signal tersebut hampir dipastikan sulit untuk dilihat atau tidak akan dapat anda lihat pada layar announciator HMI control centre anda. Hal ini dikarenakan signal tersebut hanya ON sekilas saja dan langsung mati saat gangguan hilang karena CB sudah trip, mungkin hanya beberapa milidetik saja. Biasanya kasus ini menjadi polemik tersendiri dalam sistem SCADA. Meski demikian, banyak juga control centre yang mampu menangkap signal sekilas seperti ini melalui event log atau alarm log dan beberapa control centre lainnya bahkan mampu menampilkannya sebagai gambar indikasi announciator, contohnya pada WinCC ataupun SICAM SCC, indikasi pada layar announciator HMI akan berkedip saat signal berubah status dan berhenti berkedip saat di acknowledge dan hilang saat reset (sama persis dengan announciator konvensional yang ada di panel, lebih mudah dan tidak perlu di-latch di relay dengan logic).

Kemudian bagaimana dengan Control Centre yang tidak dapat me-latch indikasi gangguan proteksi atau bahkan tidak dapat menangkap signal sesaat sama sekali, bagaimana cara kita mengatasinya? Cara mengatasi hal ini atau cara agar signal proteksi tersebut latching ON terus sampai kita me-reset-nya dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi logic set-reset pada relay SIPROTEC. Dengan menggunakan Logic, signal proteksi di-input-kan ke sebuah logic Set-Reset dengan outputnya dikonek ke User Output. Apabila signal proteksi Trip sempat ON sesaat, maka user output-nya akan terus ON, address signal output inilah yang dapat dipakai oleh HMI SCADA.

Jangan lupa, nanti apabila signal sudah dibuat latching, maka kita harus menambahkan fasilitas reset latch dengan menambahkan tombol “remote command” di HMI SCADA untuk mengirimkan command reset LED/reset latch.

Create Signal Baru sebagai Alias dari Signal Proteksi yang akan di-Latch

Buka Masking I/O dan create group signal baru dan create beberapa signal baru sesuai kebutuhan dengan tipe SP-single point, kemudian klik kanan pada kolom C (CFC – Source) – pilih X (Configured), begitu juga dengan S (System Interface – Destination) seperti yang ditunjukkan oleh gambar dibawah.

 

Note: Signal ini akan menjadi output dari latch logic, dan output ini yang akan dimonitor oleh SCADA sebagai pengganti (alias) dari signal aslinya.

Create Latch Signals Alias for Protection Signals - SIPROTEC - Protocol IEC103

Assign Signal Proteksi yang Akan Dibuat Latch

Pilih signal yang akan dibuat latch, misal: OC dan EF, dan arahkan signal tersebut sebagai input dari logic set-reset dengan cara mencentang (X) pada kolom C (CFC – Destination, kolom C yang ada di kolom paling kanan).

Jangan lupa juga untuk mengarahkan LED Reset sebagai input reset logic dengan cara mengarahkan signal LED reset sebagai input logic atau centang (X) CFC Destination.

Centang di CFC-Destination untuk Mengarahkan Signal Proteksi Asli ke CFC Editor sebagai Input Logic

Create CFC Chart (block logic) Baru untuk Membuat Latch Logic untuk SCADA

Masuk Setting – CFC kemudian klik kanan dan pilih “Insert CFC Chart”, rename CFC(1) dengan cara klik kanan dan pilih Object Properties dan ganti pada bagian “Name:” dengan nama yang mudah anda pahami atau rekan kerja anda dapat pahami.

Create CFC Chart or Logic Set-Reset for Protection Signals for SCADA

Klik dua kali untuk membukanya..

Setelah masuk ke CFC Editor, kita drag-drop RS_FF block dari grup Memory ke area editor. Klik kanan pada output “Q” dan buat interconnection ke signal yang baru dibuat.

Connecting Logic Set-Reset to User Creation Signals

Setelah mengkoneksikan output logic ke signal alias, sekarang kita perlu mengkoneksikan kaki Set dan kaki Reset logic ke signal proteksi yang akan di latch. Klik kanan pada kaki S, pilih F3 dan pilih signal Overcurrent, dan untuk kaki R pilih LED Reset. Logic telah Selesai!

Connecting Protection Signals to Latch Indication Logic for SCADA

Untuk mengirimkan logic ke relay, pertama compile terlebih dahulu logic tersebut dengan klik tombol “Compile” pada toolbar berikut. Apabila muncul informati “Process correctly executed”, logic sempurna atau tidak ada error.

image

Download setting ke relay dan lakukan pengujian proteksi dan SCADA, lihat bagaimana hasilnya.

image

Apabila ada pertanyaan, silahkan melalui kolom komentar dibawah.

Semoga bermanfaat! Apabila tulisan ini cukup membantu untuk anda, boleh jadi teman-teman disekitar anda juga membutuhkan tulisan ini. Silahkan bagikan di facebook/twitter/google+ dengan menggunakan tombol share diatas. Mari bahu-membahu berkontribusi untuk maju bersama… (ari)

Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >

Cara Me-Latching Signal Proteksi Trip di Relay Reyrolle untuk SCADA (Protocol)

Bagaimana Caranya Agar Signal Proteksi Tertangkap oleh SCADA

Latar Belakang

Signal proteksi seperti Trip signal adalah signal yang hanya akan muncul pada saat terjadi gangguan dan akan hilang dengan sendirinya saat gangguan hilang. Apabila anda menggunakan sebuah control centre tanpa kemampuan me-latching signal tersebut dari event log, maka signal tersebut hampir dipastikan sulit untuk dilihat atau tidak akan dapat anda lihat pada layar announciator HMI control centre anda. Hal ini dikarenakan signal tersebut hanya ON sekilas saja dan langsung mati saat gangguan hilang karena CB sudah trip, mungkin hanya beberapa milidetik saja. Biasanya kasus ini menjadi polemik tersendiri dalam sistem SCADA.

Kemudian bagaimana cara kita mengatasinya? Cara mengatasi hal ini atau cara agar signal proteksi tersebut latching ON terus sampai kita me-reset-nya dapat dilakukan dengan dua metode. Metode yang pertama adalah menggunakan indikasi LED, signal proteksi di-routing ke LED relay, LED diset latch. Apabila proteksi trip maka LED akan menyala terus sampai ada yang melakukan reset, nah dari sini kita dapat mengakses address LED tersebut sebagai alias dari signal proteksi. Cara yang kedua adalah dengan menggunakan Logic, signal proteksi di-input-kan ke sebuah logic Set-Reset dengan outputnya dikonek ke User Output. Apabila signal proteksi Trip sempat ON sesaat, maka user output-nya akan terus ON, address signal output inilah yang dapat dipakai oleh HMI SCADA.

Jangan lupa, apabila signal dibuat latching, maka kita harus menambahkan fasilitas reset latch dengan menambahkan tombol “remote command” di SCADA untuk mengirimkan command reset LED/reset latch.

Metode 1 – Latching Signal Proteksi via LED

Untuk assign sebuah signal proteksi, buka Reydisp Evolution - Output Matrix dan centang/klik pada signal proteksi yang akan diarahkan ke LED. Buat assigment untuk satu LED adalah satu signal proteksi. Contohnya seperti gambar dibawah ini.

Assignment Signal Proteksi ke LED Indicator (Latch)

Setelah melakukan assignment LED pada relay reyrolle, maka seketika itu juga kita dapat membuat mapping address signal LED tersebut ke SCADA sesuai dengan susunan assignment dari signal proteksi yang digunakan.

LED Address - Protocol DNP3

Berikut adalah list address signal LED pada relay Reyrolle dengan Protocol DNP3, lebih lengkapnya dapat membuka manual relay pada chapter protocol DNP3 (di bagian akhir dari manual).

Address List LED Reyrolle - Protocol DNP3

LED Address – Protocol IEC60870-5-103

Berikut adalah list address signal LED pada relay Reyrolle dengan Protocol IEC60870-5-103, lebih lengkapnya dapat membuka manual relay pada chapter protocol IEC60870-5-103 (di bagian akhir dari manual).

Address List LED Reyrolle - Protocol IEC60870-5-103

LED Address – MODBUS

Berikut adalah list address signal LED pada relay Reyrolle dengan Protocol MODBUS, lebih lengkapnya dapat membuka manual relay pada chapter protocol MODBUS (di bagian akhir dari manual).

Address List LED Reyrolle - Protocol MODBUS

Metode latching via LED ini adalah metode paling mudah dan langsung jadi.

Metode 2 – Latching Signal Proteksi via LOGIC DIAGRAM

Untuk membuat logic diagram pada relay reyrolle, kita harus menggunakan software Reydisp Manager (software terbaru dari reyrolle, gratis dapat di DOWNLOAD DISINI).

Buka Reydisp Manager, connect ke relay kemudian klik device-nya dan double click pada LOGIC. Buat Logic Diagram baru dengan klik File-New, selanjutnya selamat berkreasi. Untuk logic latching signal dapat mencontoh gambar dibawah ini. Untuk address User Output dapat dilihat pada User Manual Relay Reyrolle pada chapter Protocol (terletak pada bagian akhir dokumen)

Logic Diagram - Latch Signal for SCADA - Relay Reyrolle

 

Semoga bermanfaat! Apabila tulisan ini cukup membantu untuk anda, boleh jadi teman-teman disekitar anda juga membutuhkan tulisan ini. Silahkan bagikan di facebook/twitter/google+ dengan menggunakan tombol share diatas. Mari bahu-membahu berkontribusi untuk maju bersama… (ari)

Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >

Cara Setting 46BC-Broken Conductor di SIPROTEC5 7SJ82 dan Cara Mengujinya

Latar Belakang

Sebelum mulai setting dan mulai menguji relay, kita harus memahami lebih dahulu “Apa itu fungsi ANSI-46BC atau proteksi Broken Conductor?”

Jika kita sudah memahami relay overcurrent, maka yang diproteksi di dalamnya rata-rata adalah proteksi tentang hubung singkat atau korsleting atau terhubungnya kabel phasa dengan phasa atau menempelnya kabel phasa dengan tanah/body. Lalu bagaimana dengan putusnya salah satu kawat konduktor di jaringan listrik saluran udara atau putusnya kabel salah satu phasa. Hanya putus saja, menggantung, dan tidak ada hubung singkat tentunya, bagaimana cara kita mendeteksi gangguan semacam ini? atau dibiarkan saja sampai ada yang melihat?

Setelah melalui beberapa tahapan evaluasi, ternyata pada saat salah satu konduktor phasa putus atau ada mal-operasi dalam switchgear, terjadi korelasi yang sangat kuat pengarunya terhadap nilai positif phase sequence (PPS atau I1) berbanding dengan nilai negatif phase sequence-nya (NPS atau I2). Sehingga para ahli listrik di dunia merumuskan metode untuk mendeteksi load unbalance akibat adanya broken conductor dengan cara mengukur ratio antara I2/I1 atau NPS/PPS. Metode ini kemudian dikenal dengan nama ANSI-46BC.

Cara Setting 46BC di SIPROTEC5 7SJ82

Secara default pabrikan, semua fungsi proteksi sudah tersedia di libraries DIGSI5, yang perlu kita lakukan hanyalah men-Drag & Drop dari libraries ke setting relay. Sebelum menambahkan fungsi 46BC, sebaiknya dicermati untuk point dibawah ini.   Catatan: apabila anda tidak menambahkan fungsi sensitif earth fault, maka step measurement points routing dibawah tidak perlu dilakukan atau boleh skip/dilewati dan langsung ke step: drag n drop 46 I2 dari libraries.

contoh Measuring points routing untuk overcurrent   sensitive earth fault   broken conductor

 

Apabila ada fungsi sensitif earth fault terpisah, maka akan ada dua routing ke terminal CT yakni 3-phase untuk phase current protection dan 1-phase khusus untuk sensitif ground fault, maka harus dipastikan connection type yg 3-phase adalah 3-phase bukan 3-phase+IN. Jika tidak ada sensitif earth fault maka routing CT seperti biasa yaitu 3-phase+IN.

Buka libraries DIGSI5 dan buka/expand folder Global DIGSI 5 Libraries yang ada di sebelah kanan, expand folder Overcurrent Protection – 7SJ82 Overcurrent protection – FG Voltage-current 3ph – Current protection – 46 I2, kemudian Dran & Drop 46 I2 yang berwarna pink dari kanan ke kiri, tepatnya di atas VI 3ph seperti gambar dibawah.

Drag n Drop Fungsi 46 I2 ke VI 3Ph 1

Setelah di drag, klik dua kali pada fungsi 46 I2 dan masukkan nilai setting sesuai dengan standar pada sistem. misal: setting ratio BC adalah 20% dan time delay adalah 2sec.

Pertama kali untuk memposisikan 46 I2 ini sebagai 46BC, maka kita harus referensikan I2 dengan I1 alias positif sequence current dengan cara rubah reference value dari rated current menjadi pos. seq. current. Aktifkan fungsi ini dengan merubah Mode menjadi ON, masukkan setting pickup di Threshold (istilah lain dari pickup), dan masukkan juga operate delay seperti gambar dibawah ini.

Setting referensi 46 I2 menjadi pos seq current agar fungsi menjadi 46BC

Nilai release current adalah nilai pengaman (dalam primer) dimana fungsi ini hanya akan bekerja saat di primer ada aliran arus sebesar 40A, untuk meminimalisir mal-trip dari noise. Relay SIP5 dapat disetting dengan angka primer atau sekunder dengan merubah opsi di Device Settings, pada contoh diatas digunakan nilai primer.

Cara Menguji 46BC dengan Omicron CMC

Buka software OMICRON – Test Universe – Quick CMC, Rubah Set Mode dari Direct menjadi Symetrical components. Dengan mode ini kita dapat dengan mudah merubah-rubah nilai I1 atau PPS dan I2 atau NPS tanpa harus menghitungnya. Masukkan nilai I1 dan I2 dengan ratio diatas atau sama dengan nilai setting (*dengan toleransi 2% dari setting), misal 20% sesuai setting diatas.

Injeksi Omicron 46BC Menggunakan QuickCMC mode Symetrical component lalu isi I1 dan I2

Upload setting ke relay dan start injection Omicron (F5), maka relay akan trip seperti gambar dibawah ini. Disini sebagai contoh, kita gunakan LED no. 15 sebagai indikasi trip karena 46BC.

Upload setting ke Relay 7SJ82 dan Inject - Hasilnya relay trip 46BC sesuai setting

Apabila tulisan di display terkesan susah dibaca oleh operator atau kita ingin membuat tampilan display gangguan yang mudah dipahami, kita dapat mengganti tulisan VI 3Ph: 46 I2 1 dengan cara me-rename tulisan tersebut di information routing.

Rename 46 I2 menjadi 46BC Broken Conductor agar mudah dibaca Operator - bebas ganti nama

Dan saat relay Trip, akan seperti ini tampilannya. Tulisannya bebas di-rename sesuka hati, boleh singkat boleh panjang.

Setelah di-rename di info routing - LCD indikasi trip menjadi lebih jelas dan kita bebas ganti nama!

Semoga bermanfaat! Apabila tulisan ini cukup membantu untuk anda, boleh jadi teman-teman disekitar anda juga membutuhkan tulisan ini. Silahkan bagikan di facebook/twitter/google+ dengan menggunakan tombol share diatas. Mari bahu-membahu berkontribusi untuk maju bersama… (ari)

…Share is Care…

Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >

Menguji Kontrol CB Reyrolle - Select Before Operate (SBO) Protocol DNP3

Latar Belakang

Saya seringkali mendapat pertanyaan tentang “Bagaimana cara menguji kontrol SBO dengan protocol DNP3 pada relay Reyrolle Argus 7SR series via Protocol Tester ASE2000?” Baiklah, kita akan coba kupas seputar SBO dan jawab pertanyaan tersebut disini agar mudah dicari lagi ya.

Pada protocol DNP, kita dapat memonitor status CB double point (satu address dengan dua input kontak, open dan close) sekaligus juga dapat mengkontrol CB double command (satu address berisi dua kontak output, trip dan close), ini adalah salah satu kelebihan protocol DNP3 dibanding modbus. Untuk double command, ada dua jenis perintah yang dapat digunakan yaitu Direct Operate dan Select Before Operate. Perbedaannya hanyalah disisi frame komunikasi, untuk SBO, relay dan master/SCADA akan ngobrol dua kali. Obrolan yang pertama antara master dan relay adalah ngobrol tentang perintah Select. Apabila relay sudah confirm terima perintah select, relay siap terima perintah atau order Trip atau Close, apabila perintah Trip atau Close diterima relay maka kontak output relay akan bekerja untuk Trip/Close CB.

image

Sehingga dapat kita katakan disini untuk operasi SBO, master dan relay harus melalui dua tahap percakapan baru boleh order command tersebut dieksekusi, jika hanya terjadi percakapan sekali maka perintah tersebut tidak dilaksanakan (mis. langsung order “Operate Relay” trip/close tanpa diawali dengan order “Select Relay”). Disinilah security untuk tipe SBO, sebetulnya sih nggak terlalu significant juga ya, tetapi inilah standar internasionalnya (baik itu DNP3 ataupun IEC-60870). Sedangkan untuk Direct Operate, tidak perlu ada percakapan dua kali, cukup kirim order Trip atau Close maka order tersebut akan langsung dilaksanakan oleh relay.

Cara Setting Aplikasi Double Command CB pada Reyrolle Argus 7SR

Selain standard command seperti momentary command (pulse on/off) ataupun latched command, relay Reyrolle Argus 7SR juga mempunyai fitur double command pada protocol DNP3, IEC 60870-5-103, dan IEC 60870-5-101. Untuk mengaktifkan double command agar reyrolle bisa operasi direct operate dan juga SBO, kita harus merubah setting protocol di Communication Editor, cari signal CB1 kemudian rubah centang dari Pulse On - Pulse Off menjadi Paired Close & Paired Close seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah.

 

image

Communication Editor ini dapat ditemukan di start program – reydisp evolution – communication editor.

image

Contoh Setting Protocol - Relay Reyrolle Argus 7SR1.rpdc

Pastikan juga bahwa setting Manual Control CB beserta input outputnya sudah tepat. Setting untuk manual close dapat dilihat pada gambar dibawah.

Setting Manual Control CB - Reyrolle Argus 7SR1

Pada Input matrix, CB Open dan CB CLosed harus dicentang, mis. BI1 untuk status CB Open dan BI2 untuk status CB Closed seperti pada gambar dibawah (abaikan saja opsi 79 In apabila relay anda tidak ada fungsi Autoreclose).

Reyrolle Argus 7SR1 - Setting Kontak Input CB

Tak lupa untuk Output Matrix juga harus dipastikan kontak Trip dan kontak Close CB sudah tepat, centang Open CB (kontak ke tripping coil) dan juga Manual Close CB (kontak ke closing coil), mis. Open BO1 dan Close BO2 seperti pada gambar dibawah (abaikan opsi 79 apabila relay anda tidak memiliki fungsi autoreclose).

Reyrolle Argus 7SR1 - Setting Kontak Output CB

Contoh Setting Relay - Relay Reyrolle Argus 7SR1.rsf

Cara Menguji Double Command CB (Direct Operate & SBO) dengan ASE2000

Jika setting relay sudah dilakukan, setting protocol sudah dirubah, dan wiring status CB beserta wiring control CB juga sudah dikerjakan, maka hal terakhir yang harus dilakukan adalah mengujinya via standard protocol tester (mis. ASE2000).

Buka software ASE2000, setting protocol ke DNP3 dan pilih COM Port yang digunakan di properties-commnunication. Sesuaikan setting Protocol Specific seperti: DNP destination (address relay), parity bit di Asynch dan opsi DNP3.0

image image

Apabila setting awal sudah, proses selanjutnya kita sudah dapat memulai pengujian kontrol dengan membuka window Digital Control, klik View – DIgital Control.

image

Akan muncul tampilan window seperti dibawah ini, ketik address/point index CB1 (point 54 untuk relay reyrolle argus 7SR) di kolom Point, pilih SBO Relay untuk pengujian kontrol Select Before Operate. Isikan order operasi “Trip” atau “Close” pada kolom Trip/Close, order yang akan dieksekusi adalah pada baris Next, baris Start dan Stop difungsikan untuk operasi Toggle sehingga baris Next akan otomatis berganti dari Trip ke Close setelah order command terkirim. Klik Send Once untuk eksekusi command dan kontak CB pun seharusnya bekerja.

image

Note: Point Index relay Reyrolle 7SR1 untuk signal status CB double point adalah 0 (Double Bit Binary Input Point) dan point index untuk signal control CB adalah 54 (Control Relay Output Blocks)

Troubleshooting Kegagalan Operasi Remote Control via ASE2000

Apabila operasi CB gagal, periksa COM Port, pastikan address relay (Destination address) sudah sama, baudrate sudah sama, point CB sudah sesuai manual (54 untuk 7SR1), parity sudah sama, kabel RS485 sudah terhubung dengan benar (A+ dan B- sudah sesuai, tidak ada salahnya dibolak-balik dan dicoba connect), periksa setting protocol di relay sudah DNP3, dlsb.

Atau juga bisa jadi settingan SBO Relay anda sudah berubah dari aslinya, misal kerubah yg seharusnya tipe command adalah Breaker Relay menjadi Momentary dlsb. Untuk memulihkan setting SBO Relay dapat disamakan dengan gambar dibawah. Klik dua kali pada SBO Relay di Digital Control dan akan muncul tampilan seperti dibawah kemudian cocokkan Object Properties dan Qualifier Setup sudah sesuai dengan gambar dibawah ini.

SBO Setting 1SBO Setting 2SBO Setting 3

Semoga bermanfaat! Apabila tulisan ini cukup membantu untuk anda, boleh jadi teman-teman disekitar anda juga membutuhkan tulisan ini. Silahkan bagikan di facebook/twitter/google+ dengan menggunakan tombol share diatas. Mari bahu-membahu berkontribusi untuk maju bersama… (ari)

…Share is Care…

Baca Keseluruhan Isi Posting Ini >